RSS

Artikel

Gawat…21,7 Persen Penduduk Indonesia Alami Obesitas

Friday, 17 June 2011 16:58 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Prevelensi gemuk dan obesitas pada penduduk di atas usia 18 tahun tahun 2010 menunjukkan angka cukup tinggi. Terdapat 21,7 persen penduduk di atas usia 18 tahun yang masuk golongan gemuk dan obesitas.

”Cukup mengkhawatirkan. Karena saat ini sudah ada lebih dari 20 persen orang dewasa yang kelebihan berat badan,” tutur Direktur Bina Gizi Kesehatan, Minarto kepada wartwan di Jakarta,Jumat (18/6).

Kelebihan berat badan dan obese ini menyebabkan penyakit degeneratif yang bisa memicu pada kematian. Di antaranya penyakit degeneratif yang cenderung menyerang orang berkelebihan berat badan adalah jantung, darah tinggi, kolersterol, dan asam urat.

Prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas lebih banyak diderita oleh perempuan. Laki-laki memiliki prevalensi 16,3 sedangkan perempuan memiliki prevalensi 26,9. Sementara untuk prevalensi kurus sebesar 12,6. Dan prevalensi normal sebesar 65,8.

Di sisi lain Minarto memaparkan bahwa situasi konsumsi pangan Indonesia berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan 2009 menunjukkan bahwa padi-padian serta minyak dan mineral sudah melebihi batas anjuran.

Perempuan Dan Anak-anak Cenderung Meremehkan Obesitas

Banyak orang yang obesitas badan berpikir bahwa mereka tidak punya masalah dengan berat badan. Bahkan para ibu yang anaknya mengidap masalah ini lebih sering menganggap kondisi anak mereka normal, demikian hasil penelitian terbaru. Berdasarkan penelitian oleh Columbia University Medical Center di New York City pada perempuan dan anak-anak, ditemukan salah menilai citra tubuh justru sering terjadi pada kelompok mereka yang kelebihan berat badan dibanding kelompok dengan berat badan normal. “Implikasinya jadi membingungkan untuk anak-anak yang tumbuh di komunitas yang anggotanya kelebihan berat badan atau obesitas. Seolah mengalami obesitas adalah hal yang normal,” kata Dr. Nicole Dumas, pimpinan penelitian. “Ini mengaburkan apa yang mereka nilai sebagai berat badan yang normal atau sehat.”

Penelitian ini melibatkan 111 ibu dari perkotaan yang rata-rata berusia 39 tahun. Penelitian juga melibatkan 111 anak berusia 7-13 tahun. Masing-masing mereka ditunjukkan berbagai gambar siluet dan diminta memilih mana yang paling mendekati ukuran mereka sendiri. Sekitar 66 persen dari para ibu dan 39 persen anak-anak mengalami obesitas. Pada wanita obesitas, hanya 18 persen yang memilih siluet yang menyatakan mereka mengalami obesitas, sementara hanya 76 persen yang menganggap mereka hanya kelebihan berat badan, sisanya memilih bentuk tubuh yang normal. Pada kelompok yang agak kelebihan berat badan, kurang dari 58 pesen yang memilih bentuk siluet gemuk dan hampir 43 persen memilih bentuk siluet normal.

Hasil penelitian yang akan dipresentasikan dalam sesi ilmiah pertemuan tahunan American Heart Associationdi Atlanta ini juga menemukan:

  • 82 persen ibu obesitas dan 43 persen ibu kelebihan berat badan meremehkan kondisi berat badan mereka.
  • 86 persen dari anak-anak yang kelebihan berat badan atau obesitas juga meremehkan berat badan mereka, dan hanya 15 persen dari anak-anak bertubuh normal yang punya pemikiran yang sama.
  • 48 persen dari ibu dengan anak-anak yang kelebihan berat badan atau obesitas, yakin bahwa berat badan anak-anak mereka normal.
  • 13 persen dari ibu yang dengan berat badan normal meremehkan urusan berat badan mereka.

Epidemi obesitas tak hanya terjadi di Amerika Serikat. “Ini adalah isu global yang terjadi di seluruh dunia,” kata Dr. Robert Eckel, profesor di University of Colorado Anschutz Medical Campus dan bekas presiden American Heart Association.

“Dampaknya juga sangat serius untuk anak-anak. Anak yang obesitas akan menjadi dewasa yang juga mengalami obesitas jika tak ditangani. Maka tiap individu, sekolah, ahli medis, pemerintah, semua punya peran untuk mengatasi isu kesehatan publik ini,” kata Eckel.

sumber: tempointeraktif

Gizi Lebih, Ancaman Tersembunyi pada Anak

KOMPAS.com – Masyarakat khususnya para orang tua harus mewaspadai ancaman gizi lebih (obesitas) pada anak, mengingat angka kejadiannya yang tergolong relatif tinggi.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2010, prevalensi kegemukan pada anak balita secara nasional 14 persen, di mana pada penduduk kaya prevalensinya bisa mencapai 14,9 persen sedangkan pada penduduk miskin mencapai 12,4 persen.  Provinsi DKI Jakarta sebagai ibukota negara tercatat memiliki angka rata-rata prevalensi tertinggi, yakni 19,2 persen. Obesitas didefinisikan sebagai suatu kelainan yang ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan.  Menurut Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih,  dampak gizi lebih tidak sekedar mengganggu estetika penampilan. Tetapi menjadi predisposisi atau pemicu faktor risiko berbagai penyakit tidak menular baik degeneratif maupun kardiovaskuler.

“Meskipun prevalensi gizi lebih sudah mengkhawatirkan, tapi keberadaannya sebagai suatu ancaman nyata bagi kesehatan belum banyak disadari masyarakat,” ujar Endang, dalam sebuah seminar di Kantor Kementerian Kesehatan, Rabu, (20/4/2011). Menurut Endang, salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah melalui pengaturan asupan gizi sejak dini pada anak, di samping peningkatan aktivitas fisik dan modifikasi pola hidup. Di tambahkannya, bagi anak-anak yang kurang melakukan aktivitas fisik secara teratur berisiko menderita gizi lebih. “Yang dibutuhkan anak-anak adalah bergerak,bergerak dan bergerak,” imbuhnya.

Menkes memaparkan tiga cara dalam menjaga supaya anak terhindar dari ancaman obesitas. Pertama, dengan mengatur pola makan anak. Orang tua terutama para ibu perlu mengetahui kebutuhan kalori anaknya. Jangan sampai berlebihan, karena tubuh memiliki kemampuan mengubah kelebihan kalori menjadi timbunan lemak. Kedua, pilihan menu, makanan anak harus sehat dengan zat-zar bergizi yang seimbang. Aturan ini tidak berlaku hanya pada balita, namun juga untuk seluruh keluarga. Ketiga, mengajak anak lebih banyak beraktivitas fisik. Karena, dengan beraktivitas fisik, energi yang keluar diharapkan bisa seimbang dengan banyaknya makanan yang dikonsumsi.

“Kita sadar, khususnya anak-anak adalah aset bangsa yang harus diperhatikan. Karena ini merupakan bagian untuk mempersiapkan generasi berikutnya,” tutupnya.

Perut Buncit Rentan Penyakit

Sebuah penelitian membuktikan pria berperut buncit rentan terhadap serangan penyakit jantung. Karena lokasi penumpukan lemak berkaitan dengan keamanan organ vital manusia, yaitu jantung.

Studi yang melibatkan 137 pria berusia 30-71 tahun menunjukkan penumpukan simpanan lemak di perut berhubungan langsung denga penyakit kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah. Dengan kata lain, pria yang memiliki perut buncit beresiko terkena penyakit jantung lebih besar daripada orang yang memiliki timbunan lemak di paha atau di tungkai.

Timbunan lemak yang ada di perut cenderung bersifat resistance insulin atau tak mudah dipengaruhi oleh insulin. Akibatnya hormon insulin tak berfungsi dengan baik dan menyebabkan kelainan metabolisme tubuh. Inilah yang memicu peningkatan kolesterol. Dan akhirnya muncul jantung koroner.

Penumpukan lemak biasanya terjadi pada pria yang kurang berolah raga dan makan banyak. Risiko pertama yaitu terkena diabetes, lalu timbul kolesterol dan asam urat.

Pada wanita, penumpukan lemak biasanya terjadi pada pantat atau bagian tubuh lain. Meski ada wanita yang berperut buncit, mereka hanya memiliki kemungkinan kecil terkena penyakit jantung karena wanita memiliki hormon estrogen. Wanita berperut buncit biasanya hanya akan mengalami obesitas atau sesak nafas.

Pria berperut buncit disarankan banyak mengkonsumsi air putih dan menghindari makanan seperti nasi, mie, gula dan coklat. Mereka sebaiknya juga meningkatkan konsumsi protein, terutama protein nabati yang didapat dari sayuran. Dan yang penting untuk dilakukan yaitu lakukan olah raga secara teratur. Dan setelah berolah raga, barulah makan makanan yang berkarbohidrat.

GEMUK ITU MENULAR

Terbiasa melihat teman yang mengalami kegemukan membuat kita berpikir bahwa obesitas adalah sesuatu yang normal.
Artikel Terkait:

KOMPAS.com — Ingin punya tubuh yang ramping dan kencang? Banyak-banyaklah bergaul dengan teman yang memiliki tubuh seperti itu. Sebaliknya, menurut penelitian mengenai Indeks Massa Tubuh yang dilakukan Arizona State University, orang yang selalu dikelilingi teman-teman yang mengalami obesitas lama-kelamaan akan melebar lingkar pinggangnya.

Mengapa hal ini terjadi? Para peneliti meyakini bahwa dengan melihat orang-orang di sekitar yang berukuran besar, kita bisa terdorong untuk melihat bahwa obesitas adalah sesuatu yang normal. Alhasil, kita jadi terpicu untuk ikut makan lebih banyak. Semakin gemuk teman-teman kita, semakin besar kemungkinan kita menjadi ikut gemuk.

“Melihat obesitas telah menyebar di antara teman-teman dekat dan anggota keluarga, akan meningkatkan pertanyaan penting, bagaimana hal itu bisa menyebar,” kata Daniel Hruschka, pemimpin studi ini.

Kita bisa membentuk suatu pemahaman mengenai ukuran tubuh yang pantas hanya dengan mengamati tubuh teman-teman kita, lanjut Hruschka. Akibatnya, hal ini mengubah pola makan dan latihan kita. “Jika kita bisa menemukan dengan tepat (alasan) mengapa obesitas menyebar di kalangan teman-teman dan keluarga, kita bisa tahu ke mana harus berfokus untuk menahan tingkat obesitas,” ujarnya.

Meskipun begitu, tim peneliti tidak membuat kesimpulan yang pasti antara ukuran tubuh dan kelompok pertemanan. Mereka hanya berkeras bahwa penelitian ini memberikan petunjuk penting dalam menghadapi masalah obesitas yang terus meningkat.

shareseriale online subtitrate

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: